Minggu, 30 Mei 2010

Korean songs MORON cover =))

Tonight, when me, Onye, and Ney (not a Doppio resident, but often comes here) were in the velvet room, doing our tasks, we found out these stupid videos made almost a year ago. So yeah, most of us, Doppios, love Korean songs and singers. We didn't intent to make a cover, we were just there, gathered together without any reasons, and suddenly these moron things happened... it's almost unbelievable the La Cha Ta video gained 245+ viewers. What the hell in those people mind... =)) enjoy! (can you guess which one is me?)













Label: ,

Selasa, 25 Mei 2010

Terus gue cewek zaman kapan?

"Cewe jaman sekarang tuh sukanya lagu Justin Bieber, nontonnya Twilight Saga, ngefansnya sama Robert Pattinson sama Taylor Lautner, BB ga lepas dari tangan, sendalnya pada make Crocs..
—Status Facebook Ario Bintang Nugraha. Anehnya, beberapa cewek yang menurut gue masuk dalam kategori itu ikutan ngelike dan ‘iyain banget’. Ckck. (via pedersen766)
Ketika ngebaca ini, gue bengong. Seriusan bengong, terdiam beberapa saat. Ngebaca kalimat itu baik-baik, mencerna dan menelaahnya, lalu membandingkannya dengan diri gue sendiri. Pertanyaan yang muncul di otak gue setelahnya adalah,

"TERUS GUE CEWEK ZAMAN KAPAN?"

Panggil gue kampungan, panggil gue nggak ikutin trend. Tapi gue baru denger versi full dari lagu Baby-nya Justin Bieber, TADI PAGI. Bener-bener baru tadi pagi, dan sebelumnya cuma denger seonggok-sepotong doang kalo temen lagi nyetel atau kebetulan denger di suatu tempat. Nggak gaul? Bodo amat. Toh gue nggak menganggap suaranya JB sebagus itu sampai harus gue download. Bahkan yang gue denger baru yang judulnya Baby. Fans JB, no offense. Lalala.

Twilight Saga? TWILIGHT SAGA? TWILIGHT SAGA?
HAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA. Haters do hate. Gue fasih dalam hal menjelek-jelekkan dan menginjak-injak Twilight Saga. Berjam-jam menghina Stephanie Meyer juga gue sanggup. Jangan pancing gue menjelek-jelekkan TS disini. Kalau nggak gue bakalan ngelanjutin tugas gue nanti sore saking keterusan nulis panjang-panjang disini.

Robert Pattinson? Taylor Lautner? Oke, lalu Taylor emang hot. Dan Pattinson gay cukup lumayan asalkan bukan di serial Twilight. Tapi ngefans? Ah, saya lebih baik seharian nontonin video klip Mika dan Lily Allen dan K-Pop, atau fangirling Ilona Iwańska ketimbang mandangin RPats dan Taylor lama-lama. God, Ilona is so beautiful, I simply adore her.

Kriteria selanjutnya, BB nggak lepas dari tangan.
...
...
...
Hape yang saya pakai itu Nexian. Itu juga punya nyokap saya. HP asli saya Nokia dan kecebur di parit pas saya jatoh ditengah ujan-ujan. Nyokap ngerelain Nexiannya untuk saya, dan bagi saya yang penting hape itu bisa untuk SMS, telepon, dan nyimpan phonebook. Daripada BB, saya lebih ingin punya iPod.

Sendal Crocs? Sendal yang punya itu sendal jepit. Suer. Selain sendal jepit, ada sendal wedges Channel KW dari nyokap. Saya nggak punya Crocs. Kalopun mau make, harus pinjem tetangga kost dulu, si Pewe.
Tapi saya hidup di zaman sekarang. Saya bukan dari zaman nyokap saya, nenek saya, apalagi buyut saya. Umur saya 19 tahun, dan saya cewek. Hidup di abad ini, dan dengan aliran informasi seperti TV dan internet. Tapi lantas seseorang membuat definisi 'cewek zaman sekarang' yang sama sekali bukan saya. Lantas, kalau seperti itu anggapannya mengenai sosok 'cewek zaman sekarang', saya hanya bisa mengasihani dia, dan sepertinya dia harus menikahi generasi ibu atau neneknya kelak.
Kecuali kalau dia punya body seperti Taylor Lautner. HA. HA. HA.

Label: ,

Once upon a shit

Gue nggak percaya sama yang namanya live happily ever after. Gue pikir, para putri-pangeran yang bisa saling jatuh cinta dan langsung mempertaruhkan nyawa demi pasangannya padahal baru tau muka itu sangat konyol dan fetish kecantikan. Gue yakin kalau itu kehidupan nyata, para putri-putri lemah yang cuma bersenjatakan kekuatan kebaikan hati dan tampang itu bakalan berakhir dengan mangkal di pinggir jalan, bersedia dibawa pulang siapa aja yang bertampang ganteng kayak pangeran. Dan gue mempertimbangkan kemungkinan para pangeran ganteng itu bisa aja ngebawa pulang si putri dengan tujuan lain. Pemerkosa. Penculik. Psikopat. Pengoleksi ginjal.
Happily ever after itu sangat tidak terdefinisi, sobat. Mungkin aja the real ending bisa kayak di bawah ini.


Cinderella
Ngingetin gue sama Lala dan Ibu Peri. Hahaha.
 

Snow White
Puhlease. Kalau aja Snow Whitey hidup di game RPG,
mungkin dia malah diperbudak sama para dwarf itu buat nambang
instead of nyanyi-nyanyi di rumah tengah hutan.


Little Red Riding Hood 
Which is my favorite. No prince, no falling in love
at first sight, and the story is simply attractive.


Sleeping Beauty
Pangeran menempuh bahaya memerangi naga dan tanaman berduri
untuk membebaskan putri berusia 100 tahun lebih, yang mungkin
aja udah keriput, udah beleran, udah panuan, udah kekurangan gizi
selama 100 tahun. Tsk.


Jasmine from Aladdin
C'est cool.

Belle from Beauty and The Beast
Plastic Beauty and The Beast. Modern Belle. Ah. Life.


Ariel from Little Mermaid
HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH


Lucunya, unlike another girls, gue nggak pernah memimpikan my own prince on the white horse ketika kecil. Gue emang mencibir konsep pangeran-putri happily ever after ini dari dulu, bahkan ketika gue kecil, gue udah mengernyitkan kening melihat Snow White mau aja diboyong pulang si pangeran entah darimana, (siapa tau juga dia bukan pangeran) dan nggak ngambil pelajaran untuk nggak percaya sama orang asing setelah diracun oleh nenek-nenek entah darimana. Tapi kalo dipikir-pikir, sedikit memori genit bahagia seorang anak perempuan kecil adalah salah satunya mendambakan pangerannya datang menjemput dari atas kuda putih, kan?
Oh, well, setidaknya dulu gue sangat menikmati menonton fairy tales itu. Sampai sekarang gue nggak akan nolak diajak nonton ulang fairy tales Disney, yang ngomong-ngomong sekarang gue jadi pengen nyari download-annya di Youtube.

Label:

Minggu, 16 Mei 2010

Tuhan, semoga ini nggak berimbas ke tugas-tugas saya. Amin.

Tuhan, inilah pengakuan dosa.

1:24 AM, dan gue tanpa ada gerakan dan ancang-ancang akan menugas, malah terduduk di kasur, dengan mata sayu dan laptop di pangkuan. Gue mengetik ini dengan muka serius. Suer. Meski ngantuk tapi gue khusyuk. Gue bertekad akan melaporkan kejadian ini malam ini juga. Gue harus menuliskan secepatnya ganjalan di benak gue. Harus atau nggak gue nggak bisa nyenyak tidur malam ini. Uwoooh.  Tapi nggak beberapa lama kemudian gue ketiduran. Meski pasang alarm jam empat, tapi nyatanya gue kebangun jam setengah sebelas, dan disinilah sekarang gue, jam 10:42 AM, mengetik lagi tulisan ini sambil misuh-misuh dan bukannya buruan mandi lalu ke kampus.

Oke, jadi gini ceritanya. Kemarin orangtua gue pulang dari Bandung, meninggalkan anaknya merandom di antara tugas. Niat hati gue begitu nyampe kost adalah nugas, apa daya niat baik selalu banyak penghalang. Temen-temen kost ngajak ke Wendy's Braga, dan gue sangat tergiur untuk ikut. Meski di mobil gue sempet emo-galau gara-gara mikirin tugas dan emak-babeh di kampung, tapi ujug-ujug gue malah nekat ngajuin supaya kita ke Li Sung di Dago Atas sekalian mumpung udah malem dan pemandangan city light dari sana cihui mampus. Usul gue gagal mencapai aktualisasi, karena pertimbangan nggak ada tempat parkir free disana. OTL

Akhirnya kembali ke kost. Muka gue udah kusut lagi mikirin bakal begadang nugas dan mendadak kepala gue pusing secara misterius. Nafas gue sesak dan jantung gue berdebar-debar keras. Apakah ini tandanya gue phobia pada tugas? Hanya Tuhan yang tahu. Tiba-tiba Mbak Iis muncul buat bukain pagar, membuat gue ketawa kebahak-bahak karena mukanya yang ngantuk seakan-akan cemberut menantang kita, tapi jadinya malah lucu karena si mbak chubby bulet gitu. Mendadak sakit misterius gue sembuh abis ketawa. Mbak Iis langsung terlihat keren di mata gue. Uwoow.

Kirain Mbak Iis bakalan ngamuk gara-gara kebangun buat bukain pagar, eh diketawain lagi. Taunya si Mbak lagi penasaran sama sesuatu, hal ini ada hubungannya dengan salah satu rekan kost gue yang kamarnya terletak di pavilion luar, terpisah dari rumah utama dan punya akses privat sendiri. Sebut saja cewek ini B, untuk menjaga harkat dan martabatnya. Sekost nggak ada yang pernah ngobrol atau tatap muka sama dia kecuali Mbak Iis sendiri dan gue. Kenapa gue? Soalnya waktu itu gue bela-belain nyatronin pavilion B karena diutus untuk menyampaikan keluhan warga kost soal cowok yang konon sering nginep di kamar B diem-diem.

Warga kost udah gerah, namanya aja cewek-cewek (suka gosip pula), pasti kasak-kusuk sebel kalo ada yang bawa nginep cowok. Hahaha. Tadi pagi aja, si Mbak udah sebel sendiri gara-gara dia ngeliat cowok keluar dari kamar B, padahal si Mbak sepagian ada di depan kost, dan nggak ngeliat kapan cowok itu masuk. Sayang, B orangnya alot, walau pernah gue tegur, dia berdalih cowok itu adalah sepupunya, dan alhasil 'sepupu'nya ini ngamuk ke Mbak karena B gue tegur. Malem ini, giliran warga kost yang ngamuk, karena mobil si cowok bertengger di halaman parkir, tanda bahwa cowok itu ada disana. Sebelumnya, motor si cowok ada disana dan B berdalih itu motor cuma dititipin. Berhubung udah kesel, kita yang waktu itu lagi mengirimkan sinyal 'F lo!' dan 'Gerebek aja!' ke arah kamar B, mulai menyusun plot jahat. Mendadak dari kepala gue keluar tanduk dan gue mencetuskan ide paling nggak mutu.

"Gembesin aja ban mobilnya?"

Tuhan memang memberikan karunia jahil ke tiap-tiap penghuni kost. Ide geblek gue itu disetujui dan akhirnya gue dan Onye mendadak berseragam jaket warna gelap, celana pendek, dan tudung menutupi kepala demi merangkak diam-diam ke halaman parkir tanpa ketahuan. Misi berjalan sulit dan sempat mengalami kegagalan berkali-kali karena kegeblekan gue yang nggak ngerti ban mobil itu kudu dicolok pentilnya baru keluar udaranya. Rintangan cukup disumbangkan oleh mas-mas pecel lele yang terus-terusan nongkrong diluar, membuat acara mengendap-endap perlu bantuan intaian dari Mbak Iis yang juga sengaja ditaroh disitu (buset!) supaya cowoknya B takut untuk turun meski kalo nantinya dia denger aneh-aneh dari luar.

Maka, tengah malem buta, dua orang anak memulai lembaran kriminalnya yang pertama dengan cara jalan jongkok di antara mobil, dan menzinahi ban mobil orang. Dikamuflase dengan jaket gelap dan Mbak Iis serta Olive yang sengaja ngobrol keras-keras diluar untuk mengalihkan perhatian, gue dan Onye mencolok pentil mobil itu berbekalkan sebatang garpu yang udah rusak dan cuma sebatang jarinya yang mencuat keluar, seperti logo The Election Channel.


Mischief managed.

Akhirnya gue mulai jadi pro dalam ngempesin ban. Anak-anak kost ngikik girang karena udah sekongkol melakukan tindakan tak terpuji. Mbak Iis puas dan siap mengintai besok hari. Onye mulai mendapat pencerahan untuk mendekati B demi mengorek informasi. B dan cowoknya yang malang kudu mompa ban besok. Dan emak gelar sejadah di kampung, ngedoain anaknya cepetan insyaf dan ngerjain tugas, bukannya malah ngempesin ban orang.

Sebelum masuk kamar, gue sempet berdoa supaya kejahatan gue malam ini nggak berimbas apa-apa ke tugas gue. Apalagi sebelumnya gue dan anak-anak sempet bikin orkes ribut dadakan untuk ngerjain balik prank call ke hape gue. Ngebayangin orkes ribut itu bisa ngebangunin penghuni lain, gue makin deg-degan komat-kamit berdoa.

Sayang, kejahatan emang selalu membuahkan hasil. Gue yang masang alarm jam empat demi cita-cita mulia menugas setelah beristirahat sejam, malah baru bangun jam setengah sebelas. Dan bukannya mandi, malah nulis blog ini diselingi ngegosip sama si Mbak Iis yang menyaksikan dua insan malang itu terpaksa naik motor keluar karena mobilnya gembes.

Ah, 11:42 AM, dan tugas gue masih nol persen.

Label: ,

Selasa, 04 Mei 2010

DILARANG PARKIR (PART 2)

DILARANG PARKIR DISINI, ANY*NG!

Kasar? Nggak sopan? You name it all.

Ya Tuhan, kurang sadis apa sih kelakuan gue pada insiden herder gerbang part 1? Kenapa, oh kenapa, kejadian imbisil nan epik terulang lagi, dan sekali lagi mengambil tempat yaitu gerbang kost gue yang rawan akan pemarkir liar? Apakah para pemarkir budiman itu tidak tahu betapa menderitanya kami, penghuni kost, karena ulah mereka yang memancing nafsu tawuran kami setiap saat? Tidak tahukah bahwa kami sudah mati-matian menahan hasrat untuk mengeluarkan pisau dapur dan mencoblos ban motor mereka? 

Jadi ceritanya, malam ini temen kost gue, Qilla, ngidam nasi goreng Donna deket kost. Berhubung gue juga laper, akhirnya gue ikut aja deh. Habis mesen, kita ke Indomaret yang tinggal ngesot doang dari nasgor Donna. Ngiter-ngiter disana kayak ibu-ibu bingung belanja bulanan, padahal cuma mau beli cemilan sambil nunggu nasi goreng mateng. Bosen di Indomaret, kita balik ke nasgor Donna, dan menemukan pesanan kita kayaknya bahkan belom dibikin. Akhirnya gue yang waktu itu lagi kebanyakan tugas pamit duluan sama Qilla, karena gue mau ngelanjutin tugas, sementara dia tetep disana nungguin pesenan kita berdua. Sambil menenteng plastik belanjaan gue dan Qilla sekaligus, gue pulang, dan... eng-ing-eng... apa yang gue temukan?

Motor dua ekor (??) parkir dengan cantiknya di depan gerbang kost gue. Yeah. Plus disana ada Onye dan mobilnya yang usut punya usut udah lama disana, melakukan segala hal berisik yang bisa diciptakan sebuah mobil untuk memberi peringatan pada si pemilik motor. Sayangnya, motor-motor jahanam itu bukan milik para pemuja Pecel Lele, melainkan milik pengunjung restoran depan kost. HALAH! Kesel setengah mati, akhirnya itu dua motor disingkirin oleh pegawai Pecel Lele yang kayaknya udah takut duluan gue bakalan ngamuk-ngamuk lagi kayak tempo lalu.

 Berbekal kekesalan yang memuncak, gue sama Onye memutuskan melakukan ide nekat yang sebelumnya cuma tercetus doang, tapi nggak pernah dilakuin. Kita berdua nekat nulis di dua lembar kertas, yang kemudian kita tempel ke kedua motor itu. Kertas yang gue tulis isinya:

Tolong pasang mata, disini ada tanda
DILARANG PARKIR, mobil susah masuk
daritadi!! -thx

Sementara yang ditulis Onye isinya,

IH DASAR, BISA MAKAN GAK BISA BACA!

Wanjir, imut banget. Huahahaha. Bodo ah, kita berdua muka tembok aja, nempelin itu tulisan di kedua motor itu. Yang sayangnya, dua-duanya motor bagus, tapi kok yang punya malah keterbelakangan sosial.
Jam demi jam berlalu, gue dan anak-anak kost melakukan aktifitas seperti biasa. Sesekali mengecek keadaan diluar. Sampai suatu ketika, Mbak Iis dan dan Uwi muncul sambil ketawa-ketawa heboh. "Coba dicari, coba dicari!"----apaan yang dicari? Gue kebingungan.

TERNYATA OH TERNYATA.

Saudara-saudara, malam ini, 4 Mei 2010, untuk pertama kalinya gue merasa ditampar K.O oleh jenis alay yang paling gue benci di seluruh dunia.

SPESIES ALAY MOST HATED #1. BANCI KENALAN.

Gue amit-amit banget sama yang namanya tukang ngajak kenalan, via SMS, telepon random, atau media apalah pokoknya ngajak kenalan secara tidak langsung. Jenis alay yang sama, jika dikombinasikan dengan disklesia fatal sehingga nggak bisa membaca tulisan DILARANG PARKIR, menjadikan hasil yang sangat super. Yaitu, tulisan balasan di balik kertas yang gue pake untuk nulis ancaman:

MBA, KENALAN DONG SEKALIAN

Ym: (sensor)
Twitter: tirta_(sensor)
Tumblr: anoriginal(sensor).tumblr.com
Deviantart: (sensor)tirtanatio.deviantart.com



.....
.......
..........

WTF?!

Label: ,

Kamis, 29 April 2010

Big Girls! I am beautiful!

Walks in to the room feels like a big balloon. I said, "Hey girls, you are beautiful!". Diet coke and a pizza please, diet coke I'm on my knees, screaming, "Big girls, you are beautiful!"
Big Girl (You Are Beautiful) - Mika

This is too heartwarming. Shoot. Mika really started my day.

Label: ,

fuckyeahpackaging!

So I decided to do Tumblr walking. My first destination was fuckyeahalay! but never mind that one. So, fuckyeahpackaging! was my second destination and I ended up drooling over some gorgeously creative packaging.

LOL-ed at this one. Nice, really. I'm wondering if there's any front version of this product's packaging...

I love this one. Superb.

I can see government's warning at this one. Awesome! I always hate cigarette, but I think cigarette's ads usually clever and inspiring.


Artist Justin Gignac is an entrepreneurial genius.  He is selling litter off of the street in little plastic bags for $50 each.  So far he has sold 1,200 units, each one signed, dated and numbered. (fuckyeahpackaging!)
Indeed genius! The power of packaging, turns garbage into something decorative.


I found this one uber cute. A toilet paper tube! I'm craving for this one!

IF ONLY the Lays that used to be sold here, in Indonesia, is packaged like this one above! NOT like this one under...

See?? Who's with me!?

Label:

Rabu, 28 April 2010

Apa kamu? Kelinci? Yakin?

Dulu, gue pernah melihara kelinci. Hewan peliharaan pertama gue, sekaligus juara bertahan rekor hewan terlama yang betah gue jadiin piaraan. Namanya Keli--OH SO DAMN UNCREATIVE--wakakaka, maklum lah ya, namanya aja anak SD labil girang dapet bully object piaraan. Jangankan kepikiran nama secihui Antonio, Speranzone, atau Jose Andreas. Itu aja gue baru tau kelinci gue jantan setelah sekian lama.

Keli tumbuh sehat, seekor kelinci putih gemuk dengan manik mata merah kayak albino. Dia kalem, cool gitu deh, dan nggak pernah bikin pusing. Kelinci teladan idaman semua wanita. Ketika dia gedean, gue cariin dia pasangan, dan muncullah Boni, kelinci betina berwarna cokelat dan bertubuh besar. Semoga pertukaran gender nama antar dua kelinci ini nggak termasuk animal abuse.

Singkat kata, ketika Keli mati, gue nangis histeris dan mbak gue nguburin jasadnya di halaman belakang. Sejak itu, antusiasme yang sama pada hewan peliharaan nggak pernah gue rasakan lagi. Bahkan beberapa kali miara kelinci, nggak juga bikin gue betah. Gue teringat terus Keli yang cool, manis, dan bikin gw seneng ngelus-ngelusnya. Dibandingkan saat ngurus hamster atau ayam, kelinci lebih lucu karena nggak banyak tingkah dan makanannya pun murah. Menurut gue, kelinci adalah pilihan piaraan yang oke.

.......tapi itu cuma sekedar pemikiran lugu nan polos gue, yang berakhir dengan tragisnya pada detik dimana Alin, seorang teman kost gue, memutuskan untuk memelihara seekor kelinci berbulu cokelat bernamaCINCI.

Ketika pertama kali datang, Cinci sangat menggemaskan. Kecil mungil, gitu. Tapi sekali lagi, waktu menunjukkan kekejamannya, Cinci pun tumbuh mengerikan. Ia menjadi seekor kelinci labil, bertubuh super gemuk sampai kandangnya ga sanggup menampung dia lagi. Gue jadi inget, dulu gue sering ngusulin supaya nama Cinci diganti jadi Kardus, karena bulunya cokelat. Atau Rendang, karena dia enak. Yah pokoknya, ia tetap bernama Cinci, tapi bukan Cinci si imut lagi. Mengutip deskripsi Onye pada Tumblrnya, inilah Cinci:

"Jadi ya, di kosan gue ada makhluk paling ajaib. Kakinya aja empat. Autis. Bisa loncat-loncat sambil tremor, agak gila. Pemakan segala —tapi bukan gue. Suka naik sofa, genteng, atau laptop. Bisa lari sprint bolak-balik terus tau-tau loncat ke pangkuan lo. Demen banget nyium bau kaki, alas kaki, daki, ama pantat orang. Kalo laper suka nyakar punggung orang atau gigitin sepatu lo. Pokoknya tukang bikin heboh deh."

Bagaimana? Belum cukupkah gambaran seekor CINCI bagi kalian? Oke, masih ada. Kali ini deskrip oleh Qilla, masih via Tumblr:

"Ini Chinchi, kelinci di kosan Doppio yang hobi makan APAPUN (gw kasih tau ya, dia makanin daki anak-anak yang lagi luluran) dan kelakuannya lebih mirip anjing ketimbang kelinci. Kadang gw berpikir, jangan2 dia reinkarnasi anjing."

Tambahan dari gue, Cinci itu suka PUP sembarangan. Udah bukan hal baru lagi gue ngebuka pintu dan menemukan bulatan-bulatan hitam eksotik berserakan di depan kamar. Atau mendengar jeritan-jeritan mengalahkan Tarzanwati dari seorang temen kost gue, Olive, yang menderita Cinciphobia. Singkatnya, kalau bukan karena masih hormat sama Alin, mungkin kita udah ngejual Cinci ke restoran kelinci di depan kost buat nambahin duit jajan.



Photo courtesy of Qilla. Gila yah, disini Cinci kayak penampakan banget. Nggak heran dia disangka kelinci mistis sama aki-aki tetangga gara-gara jatoh dari genteng (kost gue) ke halaman rumah sebelah yang dijaga aki-aki itu. DAN NGGAK MATI, sodara-sodara! Cinci ini beneran kelinci gaib kali, ya? Dia pernah kekurung di kamar loteng tiga hari, dan masih hidup meski ga ada makanan! Cuma jadi kurusan dan dekil aja. Sekarang sih mendingan, dikasih pita leher plus lonceng biar kalo ni kelinci binal ngabur lagi, gampang ketemunya. Habisan dia suka hiper gitu sih. Hypebunny. Halah, apeu...

Label: ,

DILARANG PARKIR DI DEPAN GERBANG!

Currently listening to: Love Love Love - Epik High.

Gue suka aneh sendiri, kalo ngelewatin tulisan DILARANG PARKIR yang sering terpampang dimana-mana. Entah itu di gerbang, didepan pintu, ditempel di tembok... wherever lah. Gue ngerasa aneh, aja. Nggak tahu kenapa. Rasa aneh yang sama bersaing sengit dengan kalo gue ngelewatin tulisan DILARANG BUANG SAMPAH DISINI KECUALI ANJ*ING (ga guna itu tanda bintang buat nyensor), kenapa ya gue ngerasa kok agak lebay, peringatan seperti itu. Entah karena gue pikir, mau ada tulisan itu atau nggak, toh kalo emang masyarakatnya udah cacat, mau itu tulisan dilukis sama Pablo Picasso atau dipigura dan digantung terbalik pakai tali rapia sekalipun, teteeeup aja ada yang namanya pelanggar hukum yang dengan sangat girang memarkirkan pantatnya didepan gerbang manapun. Oh ya, sangat terbukti itu. Pernah suatu ketika, saat sekeluarga lagi liburan di Marbella, sebuah mobil dengan cantiknya malah parkir PERSIS di bawah tanda dilarang parkir. Epik.

Tapi malam itu, detik itu, ketika rintik-rintik gerimis menyapa tanah merah di bumi dan mood sedang terjun payung gara-gara kaki sakit make sepatu hak wedges seharian, gue dan temen-temen kost (FYI, kost gue disebut Doppio sama anak-anak kost dan beberapa temen kami) yang habis pulang nonton film dalam rangka ulangtahun gue, diuji kesabarannya oleh segerombolan motor yang memblokir jalan masuk gerbang kost gue. CANGGIH BANGET DONG, itu gerbang kost seakan-akan ditempelin tulisan FREE PARKING.

Jadi ceritanya, persis depan kost gue ada tenda Pecel Lele yang rada ilegal gitu deh. Enak sih, enak. Tapi kadang mas-masnya ngajak tawuran saking resenya. Kadang pengunjungnya parkir sembarangan di wilayah kost gue, tapi kalo diklakson, biasanya tau diri dan minggir. Nah ceritanya, temen gue yang lagi jadi pengemudi kehormatan malam itu, nglakson beberapa kali dengan tujuan mulia supaya itu motor-motor budiman minggir sebelum ditabrakin satu-satu. Tapi eng-ing-eng..... nggak ada satupun pengunjung Pecel Lele yang bergerak. Semuanya (yang gue curiga satu rombongan) cuma ngeliatin dan ngeliatin. Seakan-akan mobil temen gue ada ekor kaleng-kalengnya dan tulisan 'just married' menghias di bemper mobil. Karena nggak sabar, gue pun buka pintu, langsung menghadap ke salah satu pengunjung yang duduk paling luar.

Gue: "Mas, motornya dipindahin dong?"
Mas Baju Item Brengsek Dekil: "Eh belagu lo! Biasa aja dongblablablabla---" (gue nggak terlalu inget karena saking shocknya ada phitecanthropus pake baju)
Gue: (dengan kekuatan bulan entah darimana, mendadak terbakar emosi) "Heh biasa aja dong! Lo tuh yang nyolot, anjing!"
MBIBD: (terdiam kayak kaget campur marah, siap ngomong lagi tapi gue nggak ngewaro)
Gue: (sambil nunjuk itu motor-motor dan suara lebih keras) "Yang ngerasa motornya diparkir disini, bisa dipindahin nggak??"

Nggak ada jawaban. Mereka semua cuma ngeliatin gue seakan gue Julia Perez yang datang bagi-bagiin silikon. Disaat ini, si MBIBD terkutuk laknat nista itu kembali tarik suara, menguji kesabaran gue.

MBIBD: "NGGAK ADA YANG MOTORNYA DISINI!"

Putus asa, menyangsikan intelejensia para penyembah Pecel Lele itu yang mungkin nggak ngerti bahasa manusia, akhirnya gue balik badan, ngetokin jendela mobil sampe temen gue buka kaca. Langsung gue komporin temen gue buat nabrakin itu motor satu-satu karena toh nggak ada yang ngaku pemiliknya. Untuk mendukung usul absurd itu, gue ngebuka pager kost lebar-lebar supaya mobil temen gue bisa masuk dengan jalan membelah lautan motor itu secara paksa.

...and guess what? Tiga orang keluar dan langsung mindahin motor mereka. HA! Takut motor lu beneran ditabrak? Jangan khawatir, temen gue juga masih sayang bemper mobil, suer. Tapi ketika gue kembali nutup pintu pager, bisa gue rasain rombongan itu mulai bete dan si MBIBD buduk itu ngeliatin gue dengan kesel. Dengan segenap perasaan, gue acungin jari-tak-sopan ke arah MBIBD itu, bikin dia melototin gue, yang gue bales pelototin balik meski gue lagi jalan masuk ke dalem rumah.

Hebat, malam itu gue ngalamin sendiri yang namanya versus mantan herder penjaga gerbang. Mungkin dia masih kebawa perasaan saat jadi herder kali, ya. Mau maklum juga sulit, sih.

Malam itu, gue akhirnya ngebikin tanda dilarang parkir diatas sebilah tripleks yang digergaji dengan gagah perkasanya oleh Mbak Iis, penjaga kost. Sayangnya, gara-gara nggak nemu warna lain, gue terpaksa bikin itu tanda dilarang parkir pake stabilo PINK. Udah terlanjur girly, gue kasih ilustrasi anjing, kucing sama petugas penangkap hewan liar sekalian. Biar kayak story book. Soalnya ada sempilan tulisan "...kecuali anjing." yang kecil di bawah tulisan DILARANG PARKIR yang besar. Wuahahahah. Bangga banget gue sama itu papan. Asa gimanaaaa gitu. Dengan ini mana berani itu penyembah sekte Pecel Lele parkir sembarangan lagi.

...hope so.

Sekarang, sejak itu tanda dipasang, anak-anak kost dilanda antusiasme berlebihan yang hampir-hampir setaraf kepo, akan setiap gelagat mau parkir yang ditunjukkan pengunjung Pecel Lele. Seorang temen gue, Onye, malah duduk di sofa yang menghadap pintu terbuka dan berteriak girang setiap ada motor yang naga-naganya mau menunjukkan gelagat disklesia alias gak bisa baca tanda dilarang parkir.

"YAK ANDA BERUNTUNG! SELAMAT, ANDA MENJADI ANJING BARU YANG BERANI PARKIR DISINI!"

...cacat. =))

Label: ,